Garis Tangan Ketut Liyer - Seleb Tempo.co
"Liz datang ke rumah saya sekitar lima tahun lalu," kata Liyer kepada Tempo di rumahnya yang asri di Banjar Pengosekan Kaja, Ubud, Gianyar, Bali, pekan lalu. Liyer, spiritualis itu, tak menyangka kisah nyatanya oleh Liz ditulis dalam sebuah novel berjudul Eat, Pray, Love, yang akhirnya menjadi novel terlaris di dunia. Bahkan kemudian difilmkan dengan judul sama, dibintangi aktris cemerlang Hollywood, Julia Roberts.
Liyer ingat, ketika Liz datang pertama kali ke Ubud, ia diantar oleh seorang pemandu wisata bernama Mario. Liz waktu itu hanya mengaku ingin dibaca garis tangannya dan ingin menenangkan diri. Ketika itu Liyer sudah cukup dikenal sebagai seorang spiritualis, penyembuh, atau dalam istilah Bali disebut balian. Dia juga dikenal sebagai pelukis dan pernah menjadi pemain kesenian Arja di Ubud. Banyak orang lokal maupun wisatawan asing mendatanginya untuk diramal atau berobat.
Liyer, yang cukup fasih berbahasa Inggris, ingat bahwa saat itu ia tidak terlalu banyak mengorek masalah pribadi Liz. "Saat itu dia hanya mengatakan hubungannya sedang tidak baik dengan suaminya," ucap Liyer. Pertemuan antara Liyer dan Liz terjadi beberapa kali. Sekitar empat kali Liz datang ke rumah Liyer untuk berbincang dan menenangkan diri.
Kemudian tiba-tiba pada tahun berikutnya perempuan penulis itu datang kembali ke Ubud menyerahkan novel Eat, Pray, Love. Kini, seiring kesuksesan novel tersebut, nama Liyer pun berkibar. Sayang, Liyer urung berperan dalam film besutan sutradara Ryan Murphy tersebut. Padahal ia sangat ingin ikut syuting. Tapi ia dilarang anaknya, I Nyoman Latra. Alasannya, kondisi kesehatannya kurang baik. "Saya menderita penyakit kencing batu sejak tiga tahun lalu," ujar kakek empat cucu itu.
Lelaki yang sudah menekuni dunia pengobatan sejak berusia 15 tahun itu sudah mendengar tentang Julia Roberts, yang akan memerankan Liz. Namun, dia belum pernah bertemu dengan wanita pemilik senyum menawan tersebut. "Cuma tahu dari orang, katanya dia cantik sekali," ujar Liyer.
Rumah Ketut Liyer juga akan dijadikan lokasi syuting. Pihak kru film sudah mendatanginya. Rumah Liyer rencananya dijadikan lokasi syuting selama empat hari. Saat ini petugas taman juga sudah datang untuk menata halaman rumah itu. "Saya senang rumah saya dijadikan tempat syuting," katanya.
Scroll Untuk MelanjutkanI Nengah Urip atau kerap disapa Mario, pemandu wisata yang pertama kali mengantar Liz ke rumah Ketut Liyer, juga ingat akan sosok Liz. Mario menceritakan, ia pertama kali bertemu Liz di sekitar tempat kerjanya, Hotel Ubud Inn. Ketika itu, Mario, 35 tahun, melihat Liz mondar-mandir seperti orang kebingungan. Perempuan itu seperti tengah mencari sesuatu. Ternyata dia ingin berjalan-jalan di sekitar Ubud dengan mengendarai sepeda. Mario lalu menolong Liz membelikan sepeda pancal. Dia juga mengantar Liz berkeliling. "Terus saya mengantarkan dia ke rumah Pak Ketut Liyer," ucap lelaki asal Kintamani, Bangli, itu kepada Tempo.
Namun, Mario tidak pernah menyangka bahwa Liz merupakan penulis hebat. Dia baru tahu namanya juga disebut dalam novel tersebut, setelah seorang turis mendatanginya. Sejak saat itu, dia menjadi lumayan terkenal.
Meskipun menjadi salah satu tokoh nyata dalam novel itu, Mario belum diajak untuk ikut syuting film Eat, Pray, Love. Tapi Mario tidak terlalu mempedulikannya. "Yang penting, syuting film ini nanti bisa memberikan efek yang bagus bagi pariwisata Ubud," ujar lelaki yang sejak enam bulan lalu memutuskan menjadi karyawan freelance dalam bidang pariwisata itu.
Sampai sekarang pihak produser film belum memutuskan siapa aktor lokal yang bakal berperan menjadi I Ketut Liyer. Disebut-sebut mulanya Christine Hakim menjadi istri Ketut Liyer, namun ternyata dalam film itu Christine berperan sebagai seorang wanita Bali bernama Wayan, yang berprofesi sebagai penjual obat di sebuah klinik. Dikisahkan, Julia Roberts membeli obat dan sempat dirawat lukanya di klinik tersebut. NI LUH ARIE SL